B2W

HARI PERTAMA
Berangkat pukul 7 pagi karena harus mengantar istri dulu ke kantor yang cuman 5 menit sampe. Balik lagi ke kontrakan pasang perlengkapan perang kemudian meluncuuuuurrr….

Rute Tg.Priok – Mega Kuningan. Mungkin bukan rute yang tepat buat pemula, apalagi hari pertama. Tapi tekat yang sudah bulat semenjak jumat kemarin tak membuat hati gentar.

Kilometer pertama jadi kilometer awal yang cukup berat untuk pemula dan di hari pertama ber B2W.
Tapi karena niat yang teguh dan kayuhan santai sambil menikmati Xtrada 18″ membuat jalan kejam jakarta tak jadi masalah.
Tg. Priok, dari namanya saja sudah bisa mencerminkan bagaimana riuk-pikuk kota di ujung jakarta ini. Container selalu menghiasi jalan-jalan di utaranya jakarta.
Seakan tak pernah mau tahu siapa yang ada di sebelahnya Container 18 Wheels melintas di temani debu-debu serta angin yang selalu ada setelahnya. Metromini, mungkin bukan tandingannya untuk kota pelabuhan di ujung jakarta ini. Kilometer pertama menembus jalan yos sudarso menjadi penggugah semangat tersendiri untuk bersepeda.

Sampailah di perempatan ITC cempaka putih. Berhenti di lampu merah, menghela nafas panjang, sambil meneguk air putih yang serasa berkah tiada terkira.
Belok ke jalan cempaka putih merupakan akhir dari container-container itu. Menyusuri jalan cempaka putih serasa mengayuh diatas angin. Tak ada hambatan yang terlalu berarti disini kecuali asap metromini 07 yang sangat dermawan menyumbangkan asap tebalnya.
Jalan disini pun tidak terlalu dipadati kendaran bermotor. Ini mungkin akan jadi rute terindah pertama di hari pertama ber B2W. Akhirnya sampailah di ujung jalan letjen suprapto atau perempatan senen. Disinilah macetnya jakarta baru bisa di rasakan. Motor, mikrolet, metromini, patas, KRL seakan reuni di ujung jalan ini. Tak hirau, terus kayuh sepeda lewati trotoar jalan yang juga sudah penuh dengan
pedagang loak kaki lima pasar senen. Lampu hijau, meluncuuuur ke arah jalan kwitang.

Di jalan ini terasa agak sejuk karena rindangnya pepohonan yang mungkin masih dijaga atau memang terlupakan. Di depan mata, tampak acara reunian kembali terjadi, macet lampu merah. Lagi, lewati trotoar di bahu jalan arif rachman hakim. Belok kiri ke jalan menteng raya, cut meutia, teuku umar, untung suropati, imam bonjol. Kulihat patung imam bonjol yang gagah menunggangi kudanya yang berdiri diatas dua kaki seakan siap menantang penjajah di depannya. Wah-wah beda rasanya menyusuri jalan di kompleks megah, rindang dan asri jalan ini. Serasa jalan dipenuhi oksigen segar yang baru saja dimasak oleh dedaunan hijau di sepanjang jalan ini. Hijauuuuu…. tak mau ketinggalan lampu merah, tegak berdiri, tambah kecepatan, gowes dengan penuh semangat oksigen baru hingga sampai di perempatan imam bonjol Hos cokroaminoto.

Belok kiri, rintangan terbesar rute ini tampak depan mata. Dengan semangat Imam Bonjol gowes lagi tambah lagi kecepatan. 3/4 tanjakan jembatan kuningan tak sanggup lagi….. haaaaaahhh… paha rasanya mau pecah. Turun dari kuda, eh sepeda, terpaksa kutuntun sepeda di sisa 1/4-nya. Selamat tinggal hos cokroaminoto, masuk jalan rasuna said. Tak banyak yang bisa di ceritakan disini, hanya gedung-gedung pencakar langit seakan jalan lambat di kiri kanan jalan. Ingin cepat sampat rasanya. Pukul 08:05 sampai di kosan teman di belakang ambassador untuk menumpang mandi.


===================

B2W + ASAM LAKTAT

Sekitar pukul 4 sore gelap menyelimuti langit-langit jakarta, byurrrr… lujan lebat mendinginkan panasnya Jakarta. Gusar, gundah gulana, hari pertama B2W sudah harus menjajal rute kuningan – tg.priok ditemani hujan pikirku. Tapi apa boleh buat, ini akan jadi pengalaman tak terlupakan ber B2W. Sudah terbayang di kepala menembus hujan lebat hanya ditutupi polygon magma helmet, ahhhh tak takut, malah membuat jadi tambah semangat.

Pukul 4 lebih 30 menit, langit tiba-tiba terang, tak sulit melihat syafak merah di ujung barat dari lantai 17 MBD. 17:05 meluncur dari parkiran sepeda. Dengan semangat imam bonjol, goweesss. Tanjakan pertama keluar dari basement tak jadi hambatan. Bingung lewat mana, karena rute kearah utara, akhirnya menyebrang ke arah ambassador mengikuti para pejalan kaki. Perjalanan di mulai, macetnya Jakarta sudah bisa di lihat hanya dari sini, tak perlu banyak diceritakan pasti sudah banyak yang tahu bagaimana macetnya jalan Dr. Satrio di jam pulang kerja sehabis hujan besar, mungkin hanya indah jika dilihat dari atas lantai 17 dengan lampu-lampu mobil yang penuh kerlap-kerlip menginjak rem bergantian… hehehe. Jalan perlahan, hah tak ingin teruskan hingga ke jalan rasuna said diatas, karena macet. Belok kiri masuk jalan setelah NISP. Lega rasanya.

Keluar lagi jalan Rasuna Said depan pasar festival. Disini jalanan masih lowong mungkin karena terhambat di Dr. Satrio tadi. Gowes-gowes-gowes… penuh semangat laju sepeda kumbang di jalan berlubang, banyak polisi bawa senjata berwajah garang, ini sih iwan fals. Laju terus, sampai gigi 1 dengan chain wheel terbesar kupakai. Sampai di ujung jalan Rasuna Said, artinya jembatan kuningan menghadang, tak mau terulang seperti waktu pagi berangkat gowes terus tak kenal ampun. 1/4, 1/2, 3/4 jembatan hingga akhirnya Asam Laktat kambuh lagi…. pegal tak tertahankan tapi kupaksa terus gowes… ahhhhh, sampai juga di atas jembatan kuningan, rasanya tak sanggup lagi menggowes, tapi tetap kuteruskan dengan perlahan mungkin hampir sama dengan lajunya semut-semut di bahu jalan jembatan kuningan itu. Habis gelap terbitlah terang, itu jadi peribahasa indah kurasakan setelah menyusuri jembatan. Nyiusss, turunan. Ah sial, macet di depan. Lampu merah perempatan imam bonjol, padahal belum sempat kuhabiskan percepatan gravitasi yang kudapat dari jembatan kuningan. Berhenti di sebelah kopaja 63 (kalo gak salah), cabut botol minuman, basahi kerongkongan, stay cool walopun dilihat penumpang kopaja, (geer aja, sapa yang mo ngeliatin).

Hos cokroaminoto, kulalui, belok kanan masuk jalan cut meutia, belok kiri, macet lagi, lampu merah tugu tani. Jalan pulang ini lebih banyak macet dibandingkan jalan pergi waktu tadi pagi. Sampai di pos polisi tugu tani, kuangkat sepeda naiki trotoar belok kanan ke arah kwitang (untuk kendaraan bermotor tidak boleh belok kanan), wah enak sekali pikirku naek sepeda, memang kupilih jalur ini agar lebih dekat. Macet lagi di lampu merah di pertengahan jalan kwitang. Disini, trotoar terbuka lebar, jadi gowes terus sampailah di perempatan senen, kebetulan hijau, gowes lagi. Ada sinar-sinar kuning kuliat di depan, rada ragu karena tertutup kabut metromini, ah senangnya ternyata ada Om B2W. Gowes semangat hingga ada tepat di belakangnya, senang sekali rasanya bertemu B2Wers lain di jalan padat ibukota. Masuk underpass senen beriringan, jadi ingat ingat kuliah CFD yang memanfaatkan streamline iringan sepeda guna meringankan beban angin didepan. Masih bisa kuikuti gowesan sepedanya hingga menaiki underpass senen. Hah, asam laktat kembali kambuh, walopun tak sebanyak jembatan kuningan tadi. Jembatan flyover di depan mata, ragu, bimbang, “masih kuat gak yah”. Terus gowes, asam laktat masih juga belum hilang dari otot-otot pahaku. Sial B2Wer itu menaiki flyover, asam laktatku rasanya tak mau kompromi, yah sudahlah daripada dipaksakan besok tak bisa bangun dari tempat tidur, kuambil jalan kiri di sebelahnya. Jalan ini belok ke kiri sebenarnya, tidak boleh lurus. Tapi karena sepeda, kulangkahi trotoarnya.

Belum habis asam laktat, macet di sepanjang jalan Letjen Suprapto (cempaka putih) tak kenal ampun. Dari setelah flyover sampai perempatan ITC Cempaka mas, jalan padat sekali. Ditemani ciparatan-cipratan ban sepeda depan dan belakang, terus gowes sepeda. Tak ada trotoar di jalan ini, sebenarnya ada tapi untuk pejalan kaki pun rasanya sulit lalui. Karena sepanjang jalan pulang cempaka putih ini banyak sekali toko-toko, hotel, pecel lele, satepadang, empek-empek, ayam bakar. Hehehe… jadi makanan yang terbayang, rasanya lapar sekali. Sampai rumah, aku akan membeli 2 buah ayam bakar + jus alpukat, gumamku. Sambil terus gowes jalani penderitaan jalan kejam dan macet jakarta plus asam laktat yang rasanya tak mau pergi dengan penuh ketabahan. Jalan pulang lebih berat.

Ah… sampai juga di ujung jalan letjend suprapto. Belok kiri menuju jalan yos sudarso. Perut, paha beserta asam laktatnya, cipratan roda sepeda, sepatu basah, temaniku hingga sampai kerumah.
Sampai rumah tak sudi lihat teman sepedaku seperti habis pulang perang bersama imam bonjol, langsung kucuci temanku yang satu ini. Mencuci teman baru B2W, serasa memandikan seekor kuda, bukan hanya ingin terlihat bersih, tapi setiap usapan berarti ungkapan hati antara penunggang dan sikuda.

Comments
  1. Fatkur says:

    Wuah hebat mas kita yg satu ini biasa B2W yah, klo sy B2S, Bike to sport alias olah raga sambil naik sepeda, yah kecil2an antara kramat jati-condet dsk. Ok suskses dgn B2W-nya mas

    • fauzanahmad says:

      ooo gitu, rajin gowes juga yah… terusin deh gowes-nya. Selain bikin sehat badan, juga turut membantu ngurangin polusi yang tidak tertolong, khususnya di jakarta ini.

  2. komuter says:

    salam kenal om…. apa khabar ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s