Jalan Jakarta jatuh di lubang yang sama

Posted: February 9, 2009 in Uncategorized

Musim hujan telah tiba. Hari demi hari jakarta hampir tidak lepas terguyur hujan. Dua hal yang akan selalu menjadi langganan buat jakarta, banjir dan jalan berlubang. Untuk banjir, menurut saya merupakan hal yang sangat sulit untuk dicegah buat jakarta, kenapa? karena kelakuan buruk warga jakarta yang menganggap dimana-mana adalah tempat sampah, buat apa buang sampah di tempatnya toh sudah dipekerjakan orang yang bertugas untuk menyapu jalan setiap harinya, mungkin itu salah satu penyebabnya. Berbagai cara pemerintah lakukan guna meningkatkan kemauan masyarakat serta pemerintahan di tingkat yang lebih rendah untuk memperhatikan masalah sampah ini. Salah satunya adalah mengadakan kontes kebersihan berupa pemberian penghargaan adipura atau apapun itu namanya.

Jika ingin melihat idealisme kebersihan, lihatlah jepang. Jepang, merupakan kota yang cukup padat merupakan kota yang sangat memperhatikan sampah. Mereka memperlakukan sampah dengan amat sangat detailnya. Sebelum masuk ke penampungan terakhir (TPS) sampah tersebut di pisah-pisah berdasarkan kategorinya masing-masing, kalau tidak salah kurang lebih ada lebih dari 7 kategori. Tapi bukan itu yang terpenting, attitude warga jepang yang selalu membuang sampah pada tempatnya membuat sangat sulit bagi kita untuk menemukan katakanlah bungkus permen yang dibuang di jalan-jalan. Mungkin tahap kita belum bisa sampai seperti warga jepang, tapi paling tidak kita memulainya dari sekarang. Kenapa saya katakan demikian karena dengan membiasakan diri kita sendiri untuk selalu membuang sampah pada tempatnya akan membentuk karakter diri kita sendiri dan nantinya akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan biasanya akan sulit sekali diubah dan menjadi karakter dari diri kita sendiri. Pasti anda sering mendengar orang yang tidak bisa tidur kecuali dengan bantal kesayangannya walaupun bantal tersebut sudah lapuk, ini salah satu contoh kebiasaan yang terkarakter. Dengan membiasakan diri kita sendiri untuk selalu membuang sampah membuat kita menjadi terbiasa, membuat kebiasaan tersebut menjadi karakter, sehingga sulit diubah, secara tidak langsung, gen dimana karakter setiap makhluk tersimpan akan terbentuk.

Tentu kita masih ingat bagaimana dulu pertama kali kita belajar untuk pertama kalinya mengenai Biologi di SMP. Disitu dijelaskan bahwa gen bisa berubah dari dua faktor, faktor internal dan eksternal. Salah satu yang menjadi faktor eksternal tersebut adalah pembentukan secara bertahap karakter yang tersimpan di masing-masing gen. Jika dan seandainya (terpaksa saya pesimis), kita membiasakan diri untuk selalu membuang sampah pada tempatnya sehingga menjadi kebiasaan yang tidak bisa diubah, walaupun kita tidak merasakan hasil dari kebersihan yang tercipta sekarang, paling tidak jangan pernah turunkan sifat buruk kita tersebut ke anak cucu kita. Dengan begitu, kita memberikan pengajaran kepada anak-anak kita melalui “rekayasa genetika” dan secara tidak langsung melalui gen yang juga terdapat di sperma yang kita gunakan untuk “membuat” anak tersebut. Jika semua orang melakukan hal yang sama, saya bisa kembali menjadi optomis untuk mengatakan bahwa kita bisa juga menjadi seperti jepang dan saya yakin, tidak perlu lagi ada adipura, kalpataru atau apalah namanya.

Langganan kedua yang selalu dialami Jakarta adalah jalan berlubang. Setiap kali saya menyusuri jalan di Jakarta saya selalu memperhatikan design dan konstruksi jalannya. Buruk sekali dan selalu jatuh di lubang yang sama. Pemerintah kota atau diwakili oleh dinas pekerjaan umum (DPU) DKI Jakarta sangat-sangat rajin untuk membetulkan jalan, menambal jalan berlubang atau bahkan membuat baru jalan yang rusak tersebut dengan bahan concrete. Baik memang, tapi buat saya hal itu sangatlah bodoh, selalu jatuh di lubang yang sama. Setiap kali jalan rusak atau berlubang, tidak pernah dilihat atau diperhatikan (gak perlu sampai di analisis) apa penyebab jalan tersebut berlubang, kenapa setiap saat hujan turun jalan selalu berlubang, apa harus setiap saat ditambal dan dibuat jalan baru setiap kali jalan rusak atau berlubang? berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat jalan beton baru setiap jalan rusak, anggaran yang dihabiskan pada pos yang sama? jatuh ke lubang yang sama, atau masih saja mementingkan proyek, komisi, jatah, persenan dengan adanya proyek pembuatan jalan baru? kalau karena hal yang terakhir anda tak perlu membaca sampai habis postingan saya ini, sampai sini saja karena masalahnya sudah jelas.

Tak sulit menemukan jalan di Jakarta ini dimana tak ada lubang air yang akan membawa air ketempat semestinya. Saya berani berkata mungkin 80% jalan di jakarta tak memiliki lubang saluranair yang memadai. Padahal kita ini sudah sama-sama tahu bahwa Indonesia ini cuma memiliki dua musim kemarau dan hujan, hujan identik dengan air. Air, seperti semua orang tahu selalu memiliki sifat mencari tempat terendah. Air tuhan ciptakan sangat khusus dan memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh zat dengan fase selain air. Air, memiliki ikatan yang tidak mudah dipecah bahkan lebih sulit daripada ikatan materi benda padat, sehingga tak ada materi air yang berdiri tunggal, dengan karakter tersebut membuatnya bisa dengan mudah bergerak kemanapun, beradaptasi dengan bentuh wadahnya serta memiliki densitas yang sangat ideal, tidak sangat besar seperti padatan dan tidak juga sangat kecil seperti zat dengan fase gas. Hal ini akan membuatnya selalu mengalir hingga pada titik terendah dari muka bumi ini yaitu laut. Oleh karenanya densitas air dan tempatnya berada (laut) merupakan referensi yang dipakai pada semua perhitungan fisika dan kimia.

Jalan di jakarta tak ada yang memenuhi sifat air ini. Setiap kali jalan berlubang atau rusak dikarenakan genangan air di jalan disikapi dengan menambalnya, padahal yang diperlukan adalah dibuatnya saluran air yang memadai. Bagaimanapun kuat dan hebatnya konstruksi jalan tanpa saluran air adalah NONSENSE. Air yang tergenang lama di jalan akan masuk ke dalam pori-pori jalan karena densitasnya yang beraada diantara gas dan padat membuatnya sangat mudah masuk. Konstruksi jalan seperti apapun, jika didalamnya terdapat akan membuat rongga-rongga tak terlihat di dalam jalan. Ketika berlubang ditambal lagi, berlubang ditambal lagi, sampai menjadi jalan yang rusak parah dibuat jalan beton baru akan menghasilkan jalan yang sama rusaknya ketika hujan datang. Tak adanya saluran air diperparah dengan design yang buruk. Jalan dijakarta dibuat dengan design yang selalu rata, atau lurus. Ini merupakan tempat yang nyaman buat air. Design jalan yang baik adalah agak dibuat miring ke sisi terluar atau miring ke sisi bahu jalan dengan saluran airnya. Design yang buruk ini diperparah lagi dengan jalur busway. Anda pasti sering melihat pembatas jalur busway dengan jalan disebelahnya. Dipembatas tersebut dibuat jarak untuk membuat air dari jalur busway bisa mengalir ke jalur sebelahnya dan akhirnya ke bahu jalan (bukan saluran air), sehingga kita sering melihat jalan yang berlubang di sisi-sisi pembatas jalur busway tersebut. Hal ini sangat tidak masuk akal, mengapa tidak membuat saluran air di sisi bahu jalan busway, kenapa harus dibuat air mengalir melalui jalan, padahal sebisa dan selama mungkin air tidak berada di jalan. Saluran air yang tidak ada ditambah design jalan yang buruk akan membuat pajak-pajak yang anda setorkan ke kas negara hanya dipakai berulang-ulang berulang-ulang hanya untuk memperbaiki jalan setiap tahunnya.. jatuh ke lubang yang sama..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s